Kalam ilham yang turun kepada Muhammad Ali Hanafiah telah diteliti dan telah diseminarkan oleh Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Jakarta sejak bulan April 2002. Dalam penelitian sering muncul pertanyaan apakah masih ada orang yang mendapat ilham atau wahyu
sebagaimana yang diterima Nabi terakhir Muhammad saw?

 

Pertanyaan ini muncul juga pada seminar yang diadakan tanggal 25 September 2002. Sebagai nara sumber seminar, Drs. H. Ahmad Syafi'i, MA (sementara menyelesaikan disertasi doktornya tentang 'tasawuf nusantara') menjelaskan bahwa orang yang seperti Muhammad Ali Hanafiah adalah termasuk orang yang sudah sampai tingkat kasyaf (tersingkap tirai) sehingga ia dapat berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Bahkan ia menginginkan hasil penelitian seperti ini diterbitkan oleh Balai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan Jakarta. Sejak akhir tahun 1995 sampai sekarang telah turun lebih dari 1000 (seribu) kalam sirr ilahi. Akan tetapi banyak yang tidak ditulis, karena sifatnya yang tarbiyah pribadi, bahkan ada yang merupakan teguran kepadanya. Sedangkan yang ditulis terutama yang bersifat kajian, yang dapat dijadikan pelajaran Kalam ilham yang diterima Muhammad Ali Hanafiah telah banyak dibaca dan diteliti oleh berbagai pihak, dan tidak ada satupun yang bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah. Sesuai dengan tolok ukur utama para sufi'timbangan kami adalah syariat' (waznunâ al-syari'ah). Beberapa peneliti berpendapat bahwa ketika makna tiap-tiap kalam terus dikaji dan dikaji, akan semakin banyaklah pemahaman yang dapat rasakan, dan akan semakin terasa pula kebenaran yang dikandungnya, semakin besar keyakinan bahwa kalam ilham ini benar datang langsung dari ALLAH SWT. Karena itulah salah seorang peneliti dari Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Jakarta, Drs. Ahmad Rahman, M. Ag tertarik untuk menulis sebuah buku tentang Kalam Ilham Ilahi berjudul "SASTRA TUHAN" Pertanyaan yang selalu muncul sekarang dan akan datang apakah masih ada orang yang mendapat ilham atau mendapat ilmu langsung dari Tuhan tentang Islam setelah Nabi Muhammad saw., sebagai nabi terakhir wafat ? Bukankah Islam sudah sempurna ?

Pertanyaan semacam ini pernah terlontar dari seorang sahabat Nabi saw., Anas ra.: “Sekali waktu aku (Anas) mengunjungi Utsman ra. Dalam perjalananku, aku berpapasan dengan seorang perempuan, dan sejenak aku memandangnya seraya mengagumi kecantikannya. Ketika aku masuk, Utsman berkata:: “Seorang dari kalian mendatangiku, sementara bekas-bekas zina jelas tampak di kedua mata-nya. Tidakkah kau ketahui bahwa zina kedua mata adalah melihat sesuatu yang haram? Bertobatlah sekarang juga, atau aku jatuhkan hukuman atas dirimu.” Aku bertanya keheranan: Apakah masih ada wahyu sepeninggal Nabi? Jawab Utsm-an: “Tidak, tetapi ini adalah penglihatan hati, bukti firasat yang benar.” Masalah ini menjadi perdebatan dikalangan umat Islam sejak dahulu. Hal ini dapat diketahui seperti apa yang dikemukakan oleh Al- Ghazali dalam bukunya Ihyâ al-’Ulûm Ad- Dîn, dalam bab ‘Ajâib al-Qulûb bahwa ada orang yang dipilih Tuhan untuk mendapatkan makrifah tanpa melalui pembelajaran seperti biasa, tetapi orang semacam itu tersingkap (kasyaf) baginya dengan me-lalui ilham, atau terhunjam dalam hati-nya dari arah yang tidak diketahunya, maka ia telah menjadi seorang arif. Menurut Al Gazali, orang yang dapat sampai pada tingkatan makrifah sangat sulit, tetapi orang yang belum berhasil sampai pada tingkat seperti itu, seyogyanya ia bersedia mempercayainya.

Selanjutnya Al Ghazali mengemu-kakan dalil-dalil dari Al-Quran, dan Sunnah, dan dalil-dalil dari pengalaman rohani beberapa tokoh dan ulama sufi. Berikut ini dikemukakan sepintas dalil dari Al Quran seperti firman Allah dalam Al-Quran surat. Al-’Ankabût (29): 69: “Orang-orang yang berjihad (berupaya sungguh-sungguh) dalam (mencari keridhaan) Kami, niscaya akan Kami tunjukkan mereka ‘jalan-jalan’ Kami”. Al-Quran Surat Ath-Thalâq (65): 2-3: “...Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” Yakni diajarkan pengetahuan tanpa melalui proses pembelajaran, dan membuatnya pandai tanpa pengalaman. Ayat lain dalam Al-Quran surat Al-Anfâl (8): 29: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberimu furqân.” Sebagian ahli menafsirkan kata furqân adalah cahaya yang membedakan antara haq dan bâthil, dan mengeluarkannya dari segala yang meragukan. Oleh karena itu, Rasulullah saw., selalu memperbanyak doanya agar diberi ‘cahaya’. Hal ini seperi sabda Nabi saw., yang artinya: “Ya Allah, berikan kepadaku cahaya tambahkan untukku cahaya, berikanlah cahaya di dalam: hatiku, kuburanku, pendengar-anku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku, darahku, dan tulang-tulangku (Bukhari dan Muslim). Nabi saw., telah bersabda: “Di antara umatku ada yang diberi ilham (muhaddats) atau diberi pengetahuan khusus (mu’allam) dan diajak bicara oleh malaikat (mukallam). Dan sesungguhnya Umar adalah salah satu dari mereka” (Bukhari). Hal ini diperkuat dengan sebuah kalimat yang terkenal dari Sayyidina Umar Bin Khatab R.A. : "Hatiku telah melihat Tuhanku karena hijab (tirai) telah terangkat oleh taqwa. Barang siapa yang telah terangkat hijab antara dirinya dan Allah, maka menjadi jelaslah di dalam hatinya akan gambaran kerajaan bumi dan kerajaan langit".